Rabu, 08 Januari 2014

fisafat statistika

FILSAFAT STATISTIKA
       Pendeta Thomas Bayer pada tahun 1763 mengembangkan teori peluang subyektif berdasarkan kepercayaan seseorang akan terjadinya suatu kejadian. Teori ini berkembang menjadi cabang khusus dalam statistika sebagai pelengkap teori peluang yang bersifat subyektif.
       Ilmu secara sederhana dapat di definisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah bersifat aktual, dimana konsekuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan pancaindera, maupun dengan mempergunakan alat-alat yang membantu pancaindera tersebut.
          Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama. Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan untuk menghitung tingkat peluang dengan eksak. Dengan mengambil kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual.
           Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Dan statistika mampu memberikan secara kuantitif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang  sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut.
          Tidak hanya itu, statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kualitas antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris.
            Terlepas dari semua itu maka dalam penarikan kesimpulan secara induktif kekeliruan memang tidak bisa dihindarkan. Dalam kegiatan pengumpulan data, terpaksa mendasarkan diri kepada berbagai alat yang pada hakikatnya juga tidak terlepas dari cacat yang berupa ketidaktelitian dalam pengamatan.
          Pancaindera manusia sendiri tidak sempurna yang bisa mengakibatkan berbagai kesalahan dalam pengamatan. Demikian juga dengan alat-alat yang di pergunakan, semua tidak ada yang sempurna. Kegiatan pengamatan pancaindera manusia dengan mempergunakan berbagai alat jelas mengarah kepada ketidaktelitian dalam penarikan kesimpulan.
            Di atas semua ini statistika memberikan sifat yang pragmatis kepada penelahaan keilmuan, di mana dalam kesadaran bahwa suatu kebenaran yang dapat di pertanggungjawabkan dapat diperoleh.
              Penarikan kesimpulan secara statistik memungkinkan untuk melakukan kegiatan ilmiah secara ekonomis, di mana tanpa statistika hal ini tidak mungkin dapat dilakukan. Atau di pihak lain, kita melakukan penarikan kesimpulan induktif secara sah, dengan mengacaukan logika induktif dengan logika deduktif. Karateristik yang di punyai statistika ini sering kurang dikenali dengan baik yang menyebabkan orang sering melupakan pentingnya statistika dalam penelahaan keilmuan. Logika sudah banyak dihubungkan dengan matematika dan jarang sekali di hubungkan dengan statistika, padahal hanya logika deduktif yang berkaitan dengan matematika sedangkan logika induktif justru berkaitan dengan statistika.
          Secara hakiki statistika mempunyai kedudukan yang sama dalam penarikan kesimpulan induktif seperti matematika dalam penarikan deduktif. Demikian juga dalam penarikan kesimpulan deduktif dan induktif, keduanya mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dalam penelahaan keilmuan.
         Untuk itu pendidikan statistika harus ditingkatkan agar setaraf dengan matematika. Peningkatan ini bukan saja mencakup aspek-aspek teknis namun lebih penting lagi mencakup pengetahuan mengenai hakikat statistika dalam kegiatan metode ilmiah secara keseluruhan.
        Dasar dari teori statistika adalah teori peluang. Teori peluang merupakan cabang dari matematika sedangkan statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri. Bahwa penguasaan statistika mutlak diperlukan untuk dapat berpikir ilmiah dengan sah sering kali dilupakan orang. Berpikir logis secara deduktif sering kali dikacaukan dengan cara berpikir logis secra induktif.
        Prosedur penarikan kesimpulan yang subyektif, yang bersumber pada kekacauan penggunaan logika induktifdan deduktif, merupakan salah satu penghalang kemajuan ilmu, sebab kesimpulan yang di tarik adalah tidak sah. Kesimpulan seperti ini sukar untuk di terima sebgai premis untuk berpikir selanjutnya.  
        Statistika sebagai suatu disiplin keilmuan sering dikacaukan dengan statistika yang berupa data yang dikumpulkan. Disebabkan data yang dapat di sulap atau kurang dpat dipercaya maka tumbuhlah secara sosiologis kata-kata bersayap seperti yang di ucapkann Disreli yang mengatkan bahwa terdapat tiga jenis kedustaan  yakni “dusta, dusta besar dan statistik.” Salah paham ini supaya bukan sekadar milik ahli politik bahkan penyair W.H,Auden pun ikut bersajak.

       Statistika merupakan sarana berpikir yang dapat diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secra kebetulan. Sekiranya terdapat seorang gila dalam sepuluh orang yang kebetulan berkumpul bersama-sama maka berdasarkan akal sehat kemungkinan besar yang seorang itulah yang akan disebut orang gila. Meskipun tentu saja, penilaian orang tidak selalu sama seperti seorang mahasiswa yang mempunyai teori signifikansi sendiri dalam bercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar