FILSAFAT
STATISTIKA
Pendeta Thomas Bayer pada tahun 1763
mengembangkan teori peluang subyektif berdasarkan kepercayaan seseorang akan
terjadinya suatu kejadian. Teori ini berkembang menjadi cabang khusus dalam
statistika sebagai pelengkap teori peluang yang bersifat subyektif.
Ilmu secara sederhana dapat di
definisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua
pernyataan ilmiah adalah bersifat aktual, dimana konsekuensinya dapat diuji
baik dengan jalan mempergunakan pancaindera, maupun dengan mempergunakan
alat-alat yang membantu pancaindera tersebut.
Statistika merupakan pengetahuan
untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama. Statistika
merupakan pengetahuan yang memungkinkan untuk menghitung tingkat peluang dengan
eksak. Dengan mengambil kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang
bersifat individual.
Statistika memberikan cara untuk
dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya
sebagian dari populasi yang bersangkutan. Dan statistika mampu memberikan
secara kuantitif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang
pada pokoknya didasarkan pada asas yang
sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka makin
tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut.
Tidak hanya itu, statistika juga
memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan
kualitas antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang
benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris.
Terlepas dari semua itu maka dalam
penarikan kesimpulan secara induktif kekeliruan memang tidak bisa dihindarkan.
Dalam kegiatan pengumpulan data, terpaksa mendasarkan diri kepada berbagai alat
yang pada hakikatnya juga tidak terlepas dari cacat yang berupa ketidaktelitian
dalam pengamatan.
Pancaindera manusia sendiri tidak
sempurna yang bisa mengakibatkan berbagai kesalahan dalam pengamatan. Demikian
juga dengan alat-alat yang di pergunakan, semua tidak ada yang sempurna.
Kegiatan pengamatan pancaindera manusia dengan mempergunakan berbagai alat
jelas mengarah kepada ketidaktelitian dalam penarikan kesimpulan.
Di atas semua ini statistika
memberikan sifat yang pragmatis kepada penelahaan keilmuan, di mana dalam
kesadaran bahwa suatu kebenaran yang dapat di pertanggungjawabkan dapat
diperoleh.
Penarikan kesimpulan secara
statistik memungkinkan untuk melakukan kegiatan ilmiah secara ekonomis, di mana
tanpa statistika hal ini tidak mungkin dapat dilakukan. Atau di pihak lain,
kita melakukan penarikan kesimpulan induktif secara sah, dengan mengacaukan
logika induktif dengan logika deduktif. Karateristik yang di punyai statistika
ini sering kurang dikenali dengan baik yang menyebabkan orang sering melupakan
pentingnya statistika dalam penelahaan keilmuan. Logika sudah banyak
dihubungkan dengan matematika dan jarang sekali di hubungkan dengan statistika,
padahal hanya logika deduktif yang berkaitan dengan matematika sedangkan logika
induktif justru berkaitan dengan statistika.
Secara hakiki statistika mempunyai
kedudukan yang sama dalam penarikan kesimpulan induktif seperti matematika
dalam penarikan deduktif. Demikian juga dalam penarikan kesimpulan deduktif dan
induktif, keduanya mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dalam penelahaan
keilmuan.
Untuk itu pendidikan statistika harus
ditingkatkan agar setaraf dengan matematika. Peningkatan ini bukan saja
mencakup aspek-aspek teknis namun lebih penting lagi mencakup pengetahuan
mengenai hakikat statistika dalam kegiatan metode ilmiah secara keseluruhan.
Dasar dari teori statistika adalah
teori peluang. Teori peluang merupakan cabang dari matematika sedangkan
statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri. Bahwa penguasaan statistika
mutlak diperlukan untuk dapat berpikir ilmiah dengan sah sering kali dilupakan
orang. Berpikir logis secara deduktif sering kali dikacaukan dengan cara
berpikir logis secra induktif.
Prosedur penarikan kesimpulan yang
subyektif, yang bersumber pada kekacauan penggunaan logika induktifdan
deduktif, merupakan salah satu penghalang kemajuan ilmu, sebab kesimpulan yang
di tarik adalah tidak sah. Kesimpulan seperti ini sukar untuk di terima sebgai
premis untuk berpikir selanjutnya.
Statistika sebagai suatu disiplin
keilmuan sering dikacaukan dengan statistika yang berupa data yang dikumpulkan.
Disebabkan data yang dapat di sulap atau kurang dpat dipercaya maka tumbuhlah
secara sosiologis kata-kata bersayap seperti yang di ucapkann Disreli yang
mengatkan bahwa terdapat tiga jenis kedustaan
yakni “dusta, dusta besar dan statistik.” Salah paham ini supaya bukan
sekadar milik ahli politik bahkan penyair W.H,Auden pun ikut bersajak.
Statistika merupakan sarana berpikir
yang dapat diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian
dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu untuk melakukan
generalisasi dan menyimpulkan karteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan
bukan terjadi secra kebetulan. Sekiranya terdapat seorang gila dalam sepuluh
orang yang kebetulan berkumpul bersama-sama maka berdasarkan akal sehat kemungkinan
besar yang seorang itulah yang akan disebut orang gila. Meskipun tentu saja,
penilaian orang tidak selalu sama seperti seorang mahasiswa yang mempunyai
teori signifikansi sendiri dalam bercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar